Optimasi Serbuk Pewarna Kulit Buah Jalawe (Terminalia bellirica (Gaertn.) Roxb.) dan Aplikasinya sebagai Pewarna Batik Alami


  • :   Matius Permana & 652012010
  • :   Dra. Hartati Soejipto M.Sc. dan Dr.rer.nat. A. Ign. Kristijanto MS
  • :   Optimasi Serbuk Pewarna Kulit Buah Jalawe (Terminalia bellirica (Gaertn.) Roxb.) dan Aplikasinya sebagai Pewarna Batik Alami
  • Sinopsis

    Batik merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang sudah diakui UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. Batik merupakan teknik menghias permukaan tekstil dengan cara menahan pewarna. Kulit buah Jalawe (Terminalia bellirica (Gaertn.) Roxb.) merupakan sumber pewarna alami dengan zat warna alami berupa tanin dan distribusi warna yang dihasilkan mengarah ke merah-coklat. Kulit buah jalawe sudah banyak digunakan masyarakat lokal sebagai pewarna batik, akan tetapi pemanfaatannya terbatas pada penggunaan ekstrak secara langsung, sehingga tidak praktis dalam penggunaannya. Ekstrak zat warna yang masih berbentuk cair dapat dikeringkan sehingga menjadi serbuk, akan tetapi serbuk yang diperoleh hanya sedikit sehingga perlu ditambah pengikat (binder) sehingga meningkatkan perolehan serbuk pewarna.
    Tujuan dari penelitian: Pertama, optimasi rendemen serbuk pewarna dari kulit buah jalawe ditinjau berdasarkan penambahan maltodekstrin dan lama waktu perebusan. Kedua, menentukan ketuaan warna kain mori yang diwarnai serbuk pewarna dari kulit buah jalawe antar berbagai fiksatif (tunjung, prusi, tawas, dan kapur). Ketiga, menentukan pengaruh jenis fiksatif pada ketahanan luntur warna kain mori yang diwarnai menggunakan serbuk pewarna dari kulit buah jalawe terhadap pencucian. Keempat, menentukan pengaruh jenis fiksatif pada ketahanan luntur warna kain mori yang diwarnai menggunakan serbuk pewarna dari kulit buah jalawe terhadap pencucian dan penyetrikaan.
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Rendemen serbuk pewarna dari kulit jalawe diperoleh optimal sebesar 73,41 ± 1,20 gram pada penambahan 25% maltodekstrin dan lama waktu perebusan 90 menit. 2) Ketuaan warna kain mori yang diwarnai serbuk kulit buah jalawe antar berbagai jenis fiksatif paling gelap secara berturut-turut pada fiksatif tunjung, prusi, kapur dan tawas. 3) Ketahanan luntur warna kain mori yang diwarnai serbuk kulit buah jalawe antar berbagai jenis fiksatif terhadap pencucian menunjukkan bahwa ketahanan luntur paling baik diperoleh pada fiksatif tunjung, diikuti secara berturut-turut prusi, tawas dan kapur untuk semua rona. 4) Ketahanan luntur warna kain mori yang diwarnai serbuk kulit buah jalawe antar berbagai jenis fiksatif terhadap pencucian dan penyetrikaan menunjukkan bahwa ketahanaan luntur paling baik diperoleh pada fiksatif tunjung, diikuti secara berturut-turut prusi, tawas dan kapur untuk semua rona.

  • :   Seminar
  • :   -
  • :