Model Klasifikasi Mutu Singkong Berdasarkan Metode Near-Infrared Spectroscopy (NIRS) Dan Kemometri Ditinjau Dari Kandungan Amilosa, Amilopektin, Dan HCN


  • :   Miranda Agnes Christianty & 652014021
  • :   Dr. Yohanes Martono S.Si. M.Sc dan Cucun Alep Riyanto S.Pd. M.Sc
  • :   Model Klasifikasi Mutu Singkong Berdasarkan Metode Near-Infrared Spectroscopy (NIRS) Dan Kemometri Ditinjau Dari Kandungan Amilosa, Amilopektin, Dan HCN
  • Sinopsis

    Salah satu bahan baku yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai industri adalah ubi kayu. Ubi kayu atau sering dikenal Singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal Indonesia yang mengandung amilosa, amilopektin dan asam sianida (HCN). Berdasarkan beberapa penelitian menyatakan bahwa perbedaan varietas, umur dan luas wilayah berpengaruh terhadap kandungan kimia. Salah satu metode analisis kimia yang dapat digunakan untuk mengukur kandungan kimianya adalah Near-InfraRed Spectroscopy (NIRS). Metode NIRS merupakan metode analisis yang memiliki karakter cepat, praktis, efisien, tidak merusak serta sering digunakan dalam dunia industri. Analisis NIRS menghasilkan data-data spektra yang kompleks. Salah satu metode analisa data spektra adalah kemometri. Selama ini, beberapa penelitian telah berhasil mengembangkan metode NIRS pada singkong. Akan tetapi, metode yang dikembangkan tersebut belum melakukan klasifikasi tanaman baik berdasar kandungan kimia, tempat tumbuh, ketinggian tempat, dan atau parameter lain. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan metode analisis kemometri untuk klasifikasi tanaman berdasarkan tempat tumbuh, masa panen, dan atau bagian pemanenan singkong ditinjau dari kandungan kimia (amilosa, amilopektin, dan HCN). Klasifikasi yang digunakan pada penelitian ini adalah Linear Discriminant Analysis (LDA) dan Principal Component Analysis (PCA). Untuk mengembangkan metode NIRS dan kemometri dibutuhkan data referensi. Metode referensi yang digunakan dalam pengukuran amilosa dan amilopektin adalah spektrofotometri UV-VIS, sedangkan HCN adalah titrasi argentometri. Hasil model LDA dengan tingkat kebenaran 100% telah berhasil mengklasifikasikan singkong berdasarkan varietas, umur dan letak wilayah. Model PCA juga telah berhasil mengklasifikasi kandungan kimianya yaitu empat kelompok area pada amilosa dengan kombinasi panjang gelombang 4052–4108 dan 4264-4892 cm-1, empat kelompok area pada amilopektin dengan kombinasi panjang gelombang 7856-7912 dan 8316-8356 cm-1, dan tiga kelompok area pada HCN dengan kombinasi panjang gelombang 4496-4544 dan 6752-6804 cm-1.Metode klasifikasi menggunakan gabungan NIRS dengan kemometrik menunjukkan adanya potensi penggunaan metode klasifikasi yang ditetapkan sebagai teknik pengendalian mutu singkong.

  • :   Seminar
  • :   Seminar Nasional Biologi dan Pendidikan Biologi UKSW
  • :